Sementara itu di Lapangan Basket, seorang gadis duduk di bangku penonton. Di minggu siang yang cerah itu, ia menggenakan kaos putih dengan jaket kulit merah menyala, dan rok mini yang terbuat dari bahan jins yang berwarna biru. Rambutnya ia ikat dua. Ia juga memakai topi yang berwarna sama dengan jaketnya. Di samping gadis itu terdapat sebuah tas tangan berwarna merah berukuran sedang.
Tak lama, seorang laki-laki dari antara pemain basket yang memiliki perawakan kurus dan paling pendek di antara semuanya menghampiri dia.
“Taeng!” Panggilnya.
“Ah... Donghae Oppa..?” sahutnya dengan wajah berseri.
“Kakakmu mana?”
“Hmm.. bukannya dia ada di sini? aku membawakan bekal untuknya,” Taeyeon berbohong, padahal sebenarnya ia tahu, Youngwoon, kakaknya sedang pergi bersama Sungmin.
“Oh...” Kemudian Donghae duduk di sebelahnya.
Taeyeon mulai sibuk dengan tasnya ia mengeluarkan sehelai handuk kecil berwarna merah dari tasnya, “Tampaknya handuk Oppa basah... ini aku bawakan yang lainnya,” Taeyeon memberikan handuk itu pada Donghae, Donghae menerimanya dan mengusapkan itu pada wajahnya yang berlumuran keringat. “Oppa sudah selesai istirahatnya?” tanyanya.
Masih dengan nafas terengah-engah, Donghae menjawab, “Latihannya sudah selesai”.
“Oppa lapar tidak?” tanya Taeyeon.
“Iya.. habis ini, aku dan yang lainnya mau ke tempat ramen, kamu mau ikut?” tanya Donghae.
“Hmmm... sebenarnya aku bawa bekal untuk Youngwoon Oppa... tapi ternyata ia tidak datang, ya?” Taeyeon menurunkan sudut Bibirnya, tampak kecewa. Tentunya kecewa yang dibuat-buat, namun hal ini tampak nyata bagi Donghae.
“Memang kamu bawa bekal apa?” Donghae mengambil tas merah yang saat itu berada di pangkuan Taeyeon. Ia mengambil tempat bekal berwarna hitam berbentuk lingkaran dengan diameter kira-kira 20cm, kemudian membukanya. Isinya adalah mi kering yang di atasnya terdapat sayuran-sayuran yang telah ditata sedemikian rupa sehingga tampak indah.
“Wahh.... sepertinya enak..” Tanpa meminta ijin, Donghae langsung mengambil sepasang sumpit hitam dan mencicipi mi tersebut. Taeyeon tampak senang.
“Sebentar Oppa, ada yang kurang...” Taeyeon mengambil termos berwarna putih dari dalam tasnya, “Ini kuahnya, mau kutambahkan?”
“Oh.. boleh-boleh..!” Donghae menyodorkan tempat beal itu pada Taeyeon, sementara gadis itu menuangkan kuahnya ke dalam mi itu.
Tak lama, teman-teman seklub Donghae yang sudah merganti pakaian lewat di depan mereka, “Jadi tidak ke tempat ramennya?” tanya Lee Hyukjae, seorang teman yang bertubuh pendek diantara yang lainnya.
“Eh... sepertinya tidak... maafkan aku..” ucapnya cengengesan.
“Donghae Hyung sedang bersama istrinya... enak sekali,, ada yang membuatkan bekal...” Ucap Kim Kibum, teman yang usianya lebih muda, namu ia lebih tinggi dari Donghae. “Noona.. lain kali buatkan bekal juga untuk kami..” Candanya sambil tertawa.
Taeyeon hanya tersipu mendengar ucapan teman Donghae, yang juga teman kakaknya. Ia dapat merasakan wajahnya yang mulai hangat karena malu bercampur senang. Donghae hanya tersenyum dan tidak begitu menghiraukan kata-kata Kibum.
Sepeninggalan mereka, Taeyeon masih tersipu dan tersenyum-senyum sambil menunduk. Donghae melihat ke arahnya dan tersenyum melihat adik dari Sang Kapten, ia membiarkannya seperti itu sambil terus memandanginya sampai Taeyeon sadar bahwa sang pujaan hati sedang memandanginya. Taeyeon menjadi kikuk, “Oppa... mengapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan nada cepat.
Donghae tersenyum lagi, “Kamu.....” Sesaat, laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah lapangan, kemudian menatap gadis yang sedang duduk di hadapannya itu, “Manis juga..”
Taeyeon makin tersipu. Senyumnya makin lebar, dan wajahnya menunduk, sementara jari telunjuknya memainkan rambut yang dia ikat di samping telinganya.
“Ngomong-ngomong, ini buatanmu?” tanya Donghae.
Taeyeon bingung menjawab apa. Ia agak gugup, sehingga memutuskan untuk berbohong, “I.. iya.. bagaimana? Enak?”
“Iya.. enak sekali... persis seperti buatan sahabatku”.
“O, ya?”
“Iya.. namanya Lee Sungmin. Ia tinggal bersama Paman dan Bibinya yang memiliki kedai ramen”.
Taeyeon hanya tersenyum. Dalam hati, ia merasa bersalah, namun takut kebohongannya terbongkar. Ya, tanpa mengatakannya, Donghae dapat mengenali masakan Sungmin.
“Biasanya, kalau ke rumahnya, Paman atau Bibinya yang memasakan ramen. Namun suatu saat, ia memasakannya untuk aku dan Ryeowook, rasanya bahkan lebih enak dari Paman dan Bibinya buat. Ya, seperti ini.. rempah-rempahnya sangat terasa, membuat tubuh menjadi hangat”. Ucapnya.
“Ohh... hmm...” Taeyeon tak dapat berkomentar apa-apa lagi.
“Hmmm... aneh juga, ya.. Youngwoon hyung sering bercerita, katanya kamu tidak bisa memasak,” Donghae berhenti untuk menyuapkan mi ke mulutnya, “tapi sekarang aku tahu, mungkin ini masalah selera. Makananmu cocok di lidahku. Kapan-kapan buatkan aku bekal lagi, ya!”
Taeyeon tersenyum Ia mulai tidak bersemangat.
“Ah... kenyang.... terimakasih, ya!” ucapnya.
“Eh, a..aku pulang ya, Oppa..”
“Sebentar... aku ambil tas dulu.. kita pulang bersama..” ucapnya.
Taeyeon membereskan tasnya sementara Donghae masuk ke ruang ganti. Ia merasa sedih. Ternyata Donghae tahu dirinya tidak bisa memasak. Seidikitnya ia kesal juga pada kakaknya. Kakaknya tahu ia menyukai Donghae, tapi mengapa tega mengatakan hal seperti itu? Pikirnya.
Tak lama Donghae kembali. Ia melambaikan tangannya ke arah Taeyeon. Segera gadis itu menghampiri Donghae dan mengikutinya. Donghae berjalan ke tempat parkir menuju sebuah mobil sport berwarna hitam. Ia membukakan pintu untuk Taeyeon, sebelum dia sendiri naik ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun kata keluar dari mulut mereka. Donghae terlalu serius menyupir, sementara Taeyeon masih merasa tidak enak karena berbohong pada Donghae, dan karena kakaknya mengatakan hal yang buruk tentang dirinya kepada laki-laki yang ia sukai.
Tak lama mereka sampai. Taeyeon membuka pintu mobil, “Oppa mau mampir?”
“Tidak, terimakasih... Hyung pasti sedang belajar, ya? Katakan padanya, SMANGAT!! Semoga lulus..Ok!”
“Iya, Oppa... terimakasih ya, telah mengantarku!”
“Tak perlu sungkan.. Sampai jumpa..!” ucapnya sambil melambaikan tangan.
Taeyeon keluar dari mobil dan menutup pintunya. Ia berdiri di depan gerbang sampai mobil Donghae berlalu, kemudian mesuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.
Di ruang makan ia menemukan kakaknya sedang menulis dengan Sungmin di sampingnya.
“Kamar Oppa cukup besar.. mengapa belajar di ruang makan?” tanyanya dengan wajah muram.
Youngwoon berhenti menulis dan menatap adiknya dengan mata heran, “Wajahmu tidak enak dipandang.. Apa yang terjadi?”
Taeyeon menarik salah satu kursi di sebelah Sungmin, ia duduk dan meletakan kepalanya di atas meja, “Satu, Donghae Oppa mengenali bahwa ramen itu buatan Sungmin Oppa... Dua, aku benci Oppa..”
“Apa?...” Youngwoon terkejut.
“Kau tahu aku menyukai Donghae Oppa... mengapa mengatakn padanya kalau aku tidak bisa memasak?”
“Oh... soal itu?” Ucap Youngwoon. “Donghae polos sekali...”Ucapnya lagi, dengan pelan.”Iya.. iya... maafkan aku..” Youngwoon mengusap kepala adiknya yang masih memakai topi. “Tapi bagaimana bisa ia tahu bukan kamu yang masak ramen itu?”
“Dia bilang, ramen buatanku enak... rasanya persis seperti dengan buatan Sungmin”.
“Ya.. yang penting dia tidak tahu kalau itu memang Sungmin yang masak, kan?” Ucap Youngwoon enteng.
Taeyeon menegakan kepalanya dan meraih lengan atas Sungmin dengan kedua tangannya, “Oppa.... ajari aku memasak.....” rengeknya.
Sungmin menengok ke arah Taeyeon dengan dahi berkerut, “Aku bukan guru yang baik dalam hal memasak”.
“Tapi Oppa dapat mengajari Youngwoon Oppa belajar?”
“Itu dua hal yang berbeda”. Jawab Sungmin.
Gadis itu kemudian melepaskan tangannya dari lengan Sungmin dan menyandarkan tubuh ke kursi dengan mulut yang dikerut. “Huh.... Aku mau mati saja..... aku putus asa..”
“Ya... silahkan... Aku tak dapat membantumu dalam hal ini,” Ucap Sungmin, sementara Youngwoon tertawa kecil mendengar jawaban Sungmin.
“Hmm...” Taeyeon semakin kesal. “Oppa.. memang tidak bisa membantuku sama sekali, ya?”
“Kalau kau mau, mungkin bisa membantu Bibiku di rumah. Dia senang mengajari orang,” Ucap Sungmin.
“Benarkah? Nanti sore antarkan aku yah!” Pinta Taeyeon.
“Tidak bisa!” Ucap Youngwoon. “Seminggu kedepan Sungmin milikku! Tak boleh ada seorang pun yang mengambilnya dari sisiku, termasuk, Kau, Kim Taeyeon!!!” Lanjutnya dengan suara keras.
“Uuh...” Taeyeon kembali melipat tangannya dan memanyunkan bibirnya
“Baiklah, saat aku ujian besok, Sungmin milikmu”.
Sungmin hanya menatap keduanya sambil menggelengkan kepalanya.
Seminggu setelah hari itu, Youngwoon telah selesai melaksanakan ujian akhirnya. Ia pun pergi ke lapangan untuk mengumumkan pengunduran dirinya dari tim basket kota Seoul.
“Aku, Kim Youngwoon, akan mengundurkan diri dari tim ini untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Aku juga ingin mencoba bergabung dengan salah satu tim basket di sana. Tapi tenang saja, pada akhirnya, aku pasti kembali ke Korea juga. Kalian di sini, tetap bersemangat, yah, jangan sampai kalah” Youngwoon menundukan kepalanya beberapa saat, “Untuk band kapten ini,” Ia melepaskan band kapten yang berada di lengannya. “Ini akan aku percayakan pada sahabat kita, Lee Donghae”
Semua mata menapat ke arah Donghae, sementara Donghae sendiri tampak tidak mendengar apa yang dikatakan Youngwoon. Ia sibuk menahan air matanya yang sudah mmebasahi wajahnya.
“Hei, sana maju ke depan, kapten memanggilmu,” Ucap Hyukjae, salah satu sahabatnya.
Donghae maju ke depan, “Ada apa, Hyung? Apa yang harus aku katakan? Aku berharap kau tidak lulus agar bisa tetap di sini,”
“Yah??? Benarkah? Dasar anak bodoh!” Youngwoon berbicara dengan suara keras sambil memeluk Donghae dan mengacak rambutnya. “Di sana, aku akan merindukan kebodohanmu ini, Adikku,,” Kemudian ia melepaskan pelukannya. “Ini, kenang-kenangan untukmu...” Ia memberikan band kapten yang selama ini dipegang olehnya.
“Ah? Ini?”
“Yah.. lagi-lagi kau tidak menyimak ucapanku..! Aku mempercayakan posisi kapten kepadamu!” Ucapnya sambil tersenyum.
“Terimakasih, Hyung... Baik-baik di sana, yah! Jaga dirimu! Kemudian, cepatlah pulang ke Seoul!”.
“Iya, iya... baiklah.... doakan yang terbaik untukku, yah!”
Keesokan harinya, Donghae, Sungmin, Ryeowook, dan beberapa teman dari Tim Basket, Sekolah, dan Bandnya, mengantar Youngwoon ke Bandara. Taeyeon juga mengantar kepergian sang kakak.
Taeyeon menangis karena setelah kakaknya pergi, ia akan sendirian di rumah yang besar itu. Sementara Donghae lagi-lagi tidak dapat membendung air matanya. Tangisan Donghae dan Taeyeon membuat Youngwoon tertawa menjelang keberangkatannya.
“Donghae ah,” ucapnya dengan suara bergetar karena menahan tawa, “Tolong jaga adikku, yah! Ia anak yang manja, dan sulit melakukan banyak hal sendirian. Tolong jaga dia!”
“Hyung, kau telah menitipkan banyak hal kepadaku. Terimakasih, Hyung, karena percaya padaku!”
Youngwoon mengangguk, “Jaga dirimu, Taeng ah..” Ucapnya sambil mengacak rambur adiknya itu.
“Oppa..... sering-sering telepon aku, yah!.... Aku akan merindukanmu!”
“Tentu, kau kan adikku!” Youngwoon memeluk adiknya yang masih terisak itu.
“Yah, aku berangkat.. Sampai jumpa semua!” Youngwoon melambaikan tangan ke arah mereka, berbalik, dan pergi.
*To Be Continued*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar