Jumat, 15 April 2011

Reser Chapter 2 (Part 1)

Reset
Chapter 2
Dead at Heart
Main Cast: Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Donghae

“Sendirian lagi.....” Ryeowook menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil melepaskan kancing bajunya satu per satu. Kemudian ia pergi ke ruangan tempat ia menyimpan baju-bajunya. Ia mengambil sebuah baju mandi, dan pergi ke Jaccusi yang ada di rumahnya untuk berendam dengan air hangat.
Malam itu, Jongwoon, Ayah Ryeowook pulang ke rumah. Masih seperti 5 tahun lalu, ia memakai kacamata hitam dengan pakaian formal.
“Selamat malam, Tuan,” Sapa Kepala Pelayan Hwang sambil membungkuk.
“Ehm... Paman, ikut aku ke ruanganku,” Ucapnya sambil terus berjalan. Kepala Pelayan Hwang mengikuti dia sampai ke ruangannya.
Ruangan itu adalah ruang kerjanya. Dua buah kursi berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah meja, beberapa rak buku besar, dan sebuah sofa di sudut ruangan yang di depannya terdapat sebuah meja kaca. Dia membukakan pintu untuknya dan menutupnya kembali. “Silahkan duduk” ucapnya sambil berjalan ke arah belakang meja dan duduk di atas kursi.
“Paman, sekarang Ryeowook kelas berapa?” tanyanya.
“Kelas 2 SMA, sebentar lagi naik ke kelas 3, tahun depan, ia akan masuk universitas, tuan”.
“Bagaimana prestasi belajarnya?”
“Baik, prestasi belajar Tuan Muda di atas rata-rata. Kenaikan kelas tahun lalu, ia meraih juara umum kedua”.
“Yang pertamanya?”
“Sahabat Tuan Muda, Tuan, Tuan Sungmin”.
Jongwoon menganggukan kepalanya. “7 tahun ini aku sibuk sendiri, tak pernah mengurusnya, tidak pernah berbicara kepadanya. Ryeowook pasti sangat membenciku. Iya kan, Paman?”
“Tidak Tuan, ia tidak pernah membenci Anda, justru Tuan Muda merindukan Anda”.
“Oya?”
“Dia sangat rindu bermain piano bersama dengan Anda”.
Jongwoon menunduk, “Aku bukan Ayah yang baik untuknya”.
“Jangan berkata begitu, Tuan..”
“Besok peringatan 7 tahun kematian Geunyeong... Semuanya telah Paman siapkan?”
“Iya... besok, seluruh anggota keluarga akan datang, saya harap Tuan datang”.
Jongwoon memandang ke arah meja, dan menutupi hidungnya dengan kedua telapak tangannya, “Paman, besok aku tidak akan datang” Suara Jongwoon terdengar bergetar.
“Setiap tahun peringatan kematian Nyonya, Tuan tidak pernah datang. Saya hanya khawatir seluruh keluarga mengira Tuan tidak peduli dengan ini”.
Jongwoon terdiam cukup lama. Dahinya berkerut dan ia menggigit bibirnya. Benar kata Kepala Pelayan Hwang, bahwa dirinya memang tidak pernah datang di setiap tahun peringatan istrinya. Bahkan saat pemakaman pun ia tidak datang. Ia sangat terpukul dan belum dapat sepenuhnya menerima hal itu.
Konser piano tunggal pertamanya, yang selalu ia cita-citakan. Tanpa disangka, pada event yang sangat membahagiakan itu, ia harus kehilangan istrinya, orang yang paling ia cintai dalam kecelakaan menuju tempat konser. Tragisnya, ia baru mengetahui yang terjadi setelah konser itu berakhir. Kejadian itu membuatnya sangat terpukul. Ia sempat menyalahkan Ryeowook yang istrinya jemput sebelum kejadian itu. Ia menyalahkan cita-citanya. Andai Geunyoung tak menjemput Ryeowook, atau hari itu Ryeowook tidak pergi sekolah. Atau, sebaiknya konser itu tak usah ada. Hal itu selalu menghujani pikiran Jongwoon. Ia yak bisa menerima hal ini. Namun ini sudah tahun ketujuh, apakah pantas bila dirinya terus seperti ini?
“Paman, Paman boleh keluar sekarang,” ucap Jongwoon lirih.
Kepala Pelayan Hwang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum menutupnya, ia berkata, “Ehm, Tuan Muda Ryeowook mengundang kedua sahabatnya untuk datang. Saya permisi”.
Sepeninggalan Kepala Pelayan Hwang, Air mata Jongwoon menetes dibalik kacamata hitam yang ia pakai. Hatinya sangat sakit setiap kali teringat istrinya. Ia menggenggam ballpoint yang ada di hadapannya begitu kuat sampai patah dan tintanya mengotori telapak tangan dan mejanya. Sesaat kemudian ia itu membuka kacamatanya dan menggunakan lengan jasnya untuk mengeringkan airmata.
Ia keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju tangga, dan berhenti di depan kamar Ryeowook, yang berada di bawah tangga. Pintunya tidak tertutup dengan rapat. Ia mendorongnya sedikit. Ryeowook tertidur dengan posisi duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja belajar, kepalanya ditumpu oleh tangan, dan tubuhnya masih dibalut mantel mandi. Jongwoon masuk ke dalam kamar itu dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Ryeowook dan hendak kembali ke kamarnya.
“A...Appa...” ucap Ryeowook. Hal itu membuat Jongwoon terkejut. Ia membalikan tubuhnya untuk melihat apakah Ryeowook terbangun. Ternyata Ryeowook masih tertidur.
Jongwoon tersenyum dan kembali menghampiri Ryeowook. Ia mengelus kepalanya. “Maafkan Ayah, selama ini tidak pernah jadi ayah yang baik untukmu,” Ucapnya kemudian pergi.




>>>next>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar