Keesokan hainya, rumah Ryeowook telah dipenuhi banyak orang yang merupakan anggota keluarga dan kerabat dekat Geunyeong. Pagi itu Ryeowook telah siap dengan pakaian serba hitam. Donghae dan Sungmin juga sudah datang dengan pakaian serba hitamnya. Saat ini, mereka sedang berada di kamar Ryeowook.
Pukul 7 pagi, semua sudah siap di halaman rumah besar itu untuk berangkat ke makam Geunyeong. Ryeowook melihat Ayahnya ada di situ. “Lihat, Ayahku datang!” serunya senang.
“Bukankah sudah seharusnya begitu?” tanya Sungmin.
Ryeowook menggeleng, “Biasanya tidak pernah datang”.
“Wah... keluargamu banyak sekali, Ryeowookie ah...!” seru Donghae.
Kepala Pelayan Hwang menghampiri mereka, “Tuan Muda, Tuan Sungmin, Tuan Donghae, kalian boleh naik ke mobil itu”.
Ryeowook melihat ke arah mobil yang ditunjuk oleh Kepala Pelayan Hwang dan agak terkejut,”Itu kan mobil Ayah?” ucapnya. “Paman, memang Ayah tidak ikut?” tanyanya
Kepala Pelayan Hwang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ryeowook, “Silahkan, Tuan-Tuan”.
Ryeowook, Sungmin, dan Donghae mengikuti Kepala Pelayan Hwang. Laki-laki tua itu membukakan pintu belakang mobil sedan berwarna silver. Ryeowook membungkukkan badan untuk masuk ke mobil itu dan terkejut melihat di bagian depan ada Ayahnya. Ia menengok ke arah luar dan menatap Kepala Pelayan Hwang. Kepala Pelayan Hwang tersenyum dan mengangguk. Akhirnya Ryeowook mau masuk ke mobil itu.
Sunyi. Itulah yang terjadi di dalam mobil itu. Donghae yang biasanya jadi pencair suasana pun ikut membeku karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Semua kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Namun ketidaknyamanan yang Donghae rasakan tidak dapat dia tahan. “Paman Jongwoon, Ibuku adalah penggemar Paman. Bolehkah aku minta tanda tangan Paman?” tanya Donghae sambil menyodorkan sebuah notebook kecil dan ballpoint”.
Jongwoon mengambilnya dan menandatangani kertas itu.
“Tolong tulis di atasnya, ‘Untuk Song Qien’....Ibu pasti senang”.
Jongwoon menuruti keinginan Donghae, setelah itu mengembalikan notebook dan ballpoint itu kepada Donghae.
“Wah... terimakasih, Paman!” ucap Donghae dengan nada gembira. Namun setelah itu, suasana kembali sunyi.
“Siapa namamu, yang tadi meminta tanda tanganku?” tanya Jongwoon.
“Aku? Aku .. Aku Donghae, Lee Donghae”.
Setelah itu percakapan terhenti kembali sampai mereka tiba di tempat pemakaman milik keluarga Ryeowook.
Dekat pemakaman itu terdapat sebuah gedung besar yang telah ditata karena di sanalah acaranya akan diselenggarakan.
Semua orang masuk ke dalam gedung. Yang menjadi pembawa acara adalah Kim Jongjin, adik Jongwoon, paman Ryeowook. Dia membuka acara dengan menampilkan video dan foto-foto dari Geunyeong.
Ryeowook yang duduk bersebrangan melihat ke arah Ayahnya. Ia melihat Jongwoon menunduk dengan tangan yang di lipat. Setelah pemutaran video selesai, Jongjin membacakan acara selanjutnya, permainan piano dari Ryeowook.
Ryeowook maju ke depan dan memainkan lagu kenangan kedua orang tuanya. Selama bermain piano, ia memperhatikan Ayahnya. Di tengah-tengah lagu, Jongwoon pergi meninggalkan tempat itu, dan setelah lagu selesai, ia baru kembali.
Ryeowook membungkuk. Kemudian Jongjin memanggil Ryeowook untuk mengucapkan kata sambutan.
“Anyeonghasaeyo... Saya Ryeowook, putra tunggal dari Geunyeong dan Jongwoon. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua yang datang. Paman, Bibi, Kakek, Nenek, Teman-temanku, dan terutama Ayah. Saya senang, akhirnya hari ini Ayah mau datang pada hari ini,” Ryeowook menghela nafasnya. “Hanya 10 tahun saya mengenal Ibu, namun itu adalah 10 tahun yang berkesan. Walau hanya sedikit yang dapat saya ingat, tapi saya tahu, Ibu sangat menyayangi saya dan Ayah. Waktu-waktu yang saya habiskan bersama Ayah dan Ibu, saat-saat bermain piano bersama, rekreasi bersama, belajar bersama, dan segala hal yang masih saya ingat, tidak akan pernah saya lupakan. Itulah hal yang paling berharga di dalam hidup saya,” ucap Ryeowook sambil membungkukan badannya.
Berikutnya, Jongjin memanggil Jongwoon naik ke atas podium untuk membawakan sambutan.
Jongwoon tampak menghela nafas berkali-kali sebelum mengucapkan kata pertamanya. Setelah itu, dia berucap, “Terimakasih karena masih mengingat Geunyeoang”. Setelah itu Jongwoon memngembalikan microphone kepada Jongjin, turun dari podium, dan keluar dari ruangan itu dengan berlari kecil.
Semua mata tertuju padanya, ada beberapa perkataan yang menyatakan ketidaksenangan bahkan kritikan keluar dari mulut orang-orang yang meilihat kejadian itu. Ryeowook hendak berdiri mengejar Ayahnya, namun Sungmin menahannya.
“Ini acara Ibumu. Apa kata orang kalau kau dan Ayahmu sama-sama meninggalkan acara ini?” bisiknya. Ryeowook berpikir, benar apa yang diucapkan Sungmin, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Sampai acara berakhir, Jongwoon tidak datang kembali, ke rumah pun tidak.
*To Be Continued*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar