Reset Chapter I
To Be With You Part I
Main Cast: Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Donghae
“Paman, Bibi... aku berangkat!” Pamit seorang pemuda berambut hitam lurus dengan kulitnya yang putih. Pemuda itu menggenakan seragam sekolah lengkap dengan jas dan dasi, seperti biasanya.
“Sungmin, Kau tampak pucat..” Ucap Bibi dengan tangan berlumuran tepung terigu karena sedang membuat mi untuk kedai ramyeonnya. “Apa kau sakit?”
“Aku baik-baik saja bi,” ucapnya singkat sambil tersenyum simpul. “Aku berangkat, ya!”
“Ya, hati-hati di jalan!” Ucap bibi.
Sungmin berjalan ke luar rumah dan berbelok ke arah kanan. Jalan yang ia lewati cukup sepi, tidak terlalu luas. Kiri dan kanannya berjajar tembok-tembok yang menjadi pembatas rumah dengan jalan, tingginya sekitar 30cm dari kepalanya. Sungmin berjalan dengan langkah santai dan kepala yang menunduk.
Sampai di ujung jalan, keramaian mulai terasa. Mobil yang berlalu-lalang, orang-orang yang berjalan dengan terburu-buru. Sungmin tidak ingin terpengaruh oleh yang terjadi disekitarnya, ia memperlambat langkahnya.
Di pinggir jalan dekat sekolah, Donghae dan Ryeowook, sahabatnya, menghampiri dia dari arah yang berlawanan, ia tidak menyadari itu.
“Yo... Lee Sungmin !!!” Ucap Donghae, dengan logat kebarat-baratan khas penyanyi rapper, tepat di hadapan Sungmin. Hal itu cukup mengejutkannya. Ia menegakan kepalanya untuk melihat ke arah mereka berdua. Sementara Ryeowook langsung mengambil posisi di sebelah kirinya.
Sungmin membalas dengan senyum simpul, “Sudah mengerjakan PR?” tanyanya sambil menjaga langkahnya agar tidak tertinggal atau pun mendahului kedua sahabatnya.
“Tadi pagi aku ke rumah Ryeowook untuk menyamakan PR-ku... kau tahu, hasilnya 60% sama!!!” Seru Donghae gembira.
“40% sisanya?”
“Tidak sama... mungkin ada kesalahan menghitung,” ucap Donghae sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi punyaku belum tentu benar, loh!” ucap Ryeowook sambil tersenyum, dengan pandangan ke arah bawah.
“Kau tahu kebiasaan burukmu? Salah mencatat soal,” ucap Sungmin datar, dengan tatapan mata ke arah bawah.
“Hehehe...” Donghae tertawa sambil menggaruk kepalanya.
“Kau tampak pucat, hyung.. apa kau sakit ?” tanya Ryeowook.
“Udaranya sangat dingin, bukan?” sahut Sungmin.
Lee Sungmin, Lee Donghae, dan Kim Ryeowook, ketiganya telah bersahabat sejak kelas 6 SD. Donghae dan Ryeowook sudah bersama sejak kelas 1, hanya saja belum pernah saling menyapa satu sama lain.
Kim Ryeowook, anak tunggal dari seorang pengusaha kaya raya, namun ia tidak memiliki teman dekat. Teman-temannya hanya sekedar teman belajar di sekolah dan teman les piano, tidak lebih dari itu. Volume suaranya yang kecil dan tempo bicara yang lambat membuat orang agak sulit untuk berkomunikasi dengannya. Namun dari senyuman di bibir Ryeowook setiap kali bertemu dengan orang yang dia kenal, mereka dapat mengerti bahwa Ryeowook sebenarnya adalah orang yang ramah.
Sebaliknya dengan Lee Donghae, di bidangi akademis, prestasinya tergolong biasa saja, cenderung buruk. Namun ia memiliki banyak teman dan aktif di klub basket junior di kotanya juga sekolah. Hampir seluruh penjuru sekolah tahu namanya. Ayah Donghae adalah seorang pemilik autoservice terlaris di kota Seoul sedangkan Ibunya membuka usaha makanan kecil-kecilan. Keduanya terbiasa bertemu dengan banyak orang bahkan yang belum pernah mereka kenal, sehingga keduanya dituntut untuk selalu ramah dan mudah dekat dengan orang lain, dan sifat itu menurun pada anak tunggalnya.
Kelas 6, Sungmin datang ke sekolah mereka sebagai murid baru. Dalam penampilannya, Sungmin seperti langit mendung. Sangat pendiam, tampak sulit didekati, dan tidak ramah. Ia tidak pernah menghiraukan saat siswa-siswa yang tergolong nakal di kelas mengejek dirinya dengan sebutan, ‘si pendek’ karena ia pindahan dari Jepang. Hal ini membuat mereka menjadi marah dan tidak segan untuk terus menjahilinya dengan menyembunyikan barang-barang, bahkan memukulnya.
Saat itu, ia duduk di kelas yang sama dengan Ryeowook. Ryeowooklah yang pertama kali menyapanya. Namun Ryeowook bukan sosok kuat yang dapat melindunginya dari anak-anak nakal. Donghaelah yang melakukan itu. Mereka pertamakali saling menyapa saat terjebak hujan sepulang sekolah. Sungmin dan Ryeowook sedang menunggu hujan reda di depan sekolah, kemudian Donghae berlari dari dalam sekolah menuju gerbang luar melewati mereka dengan tubuh yang basah kuyup.
“Yah..!” Teriak Ryeowook
Donghae menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
“Kemarilah..! Kita berteduh dulu!” Teriak Ryeowook lagi, sambil melambaikan tangannya.
Donghae yang tidak dapat mendengar dengan jelas suara Ryeowook kemudian berlari arahnya untuk mendekat. “Ada apa?”
“Sebaiknya kita berteduh dulu di sini, nanti sakit..”
Donghae terdiam sebentar, “Apa orang tuamu akan menjemput?”
Ryeowook menggeleng “Sepertinya sih tidak..” kemudian melihat ke arah Sungmin, Sungmin melihat ke arah mereka dan menggeleng.
Donghae menghampiri Sungmin “Kamu murid baru itu, kan? Namaku Donghae!” Ucapnya sambil membungkukan badannya dan tersenyum.
Sungmin menengadahkan kepalanya supaya bisa melihat wajah Donghae. Sungmin menatapnya agak lama tanpa berkata apa pun
Ryeowook kemudian menghampiri mereka untuk melihat yang terjadi. Wajah Donghae masih tetap tersenyum. Kemudian Sungmin berdiri dan menundukan kepalanya dengan terpaksa, “Aku Sungmin”.
Donghae tersenyum, dan melihat ke arah Ryeowook, “dan kamu, pasti Kim Ryeowook, kan?”
“Darimana tahu namaku?”
“Tentu! Setiap kenaikan kelas, guru selalu menyebut namamu karena nilaimu yang terbaik. Jangan-jangan kau tak tahu namaku?”
“Lee Donghae... kan? Setiap tahun kau menjadi MVP, mana mungkin tidak tahu..”. Jawab Ryeowook.
“Ah.. Syukurlah!” ucap Donghae dengan wajah berseri. “Sekarang, ayo kita ke rumahku!” Ajak Donghae.
“Tapi masih hujan..” Ucap Ryeowook.
“Hujannya sangat lebat. Tidak tahu kapan akan berhenti. Sebaiknya kita ke rumahku dulu, tidak jauh, kok. Nanti dari rumahku, mudah-mudahan Ayahku sudah pulang, supaya dia bisa mengantar kalian sampai rumah dengan mobil”.
Ryeowook melihat ke arah Sungmin, “Bagaimana?”
Sungmin mengangguk. Sesaat kemudian mereka telah berada di halaman sekolah dengan keadaan basah karena air hujan. Ini adalah pertama kalinya Ryeowook hujan-hujanan. Ryeowook merasa sangat kedinginan, tapi ini menyenangkan karena dia tidak sendirian, ada Sungmin dan Donghae.
Tak lama, mereka sampai di depan sebuah rumah yang berpagar cukup tinggi. Gerbangnya terbuka. Donghae mengintip ke dalam dan berlari ke arah laki-laki dewasa yang sedang membuka pintu mobil berwarna hitam.
“Ayah.... Aku pulang! Ayah mau berangkat ke mana ?”
“Kau sudah pulang? Ayah baru saja akan menjemputmu,” jawab Ayah.
“Ayah, kenalkan, ini Ryeowook dan Sungmin, teman baruku!” Kata Donghae sambil menunjuk ke arah kedua teman barunya.
Keduanya mengucap salam sambil membungkukan badan. Ayah Donghae tersenyum. “Ah... kalian temannya Donghae? Mari silahkan masuk!” Ucapnya ramah.
Donghae berjalan terlebih dahulu, sementara Sungmin, dan Ryeowook mengikuti. Mereka berjalan melalui pintu rumah yang terbuat dari bahan kayu yang dicat putih. Rumah dengan style modern itu didominasi oleh warna putih, dimana bingkai jendelanya berwarna hijau muda, sedangkan tirainya berwarna oranye, mengesankan keceriaan.
Di dalam, ada seorang wanita cantik berambut panjang, yang memakai baju terusan berwarna putih. “Donghae ah Kamu sudah pulang?” katanya dengan senyuman di wajah.
“Iya Ibu... aku pulang..” ucap Donghae. “Ini temanku, Ryeowook dan Sungmin!” Sambungnya sambil menunjuk ke arah kedduanya.
Ibu Donghae yang menyambut mereka dengan hangat, “Wah.... Ada temannya Donghae... Senang sekali bertemu kalian!” ucapnya. “Ibu sudah menyiapkan air hangat. Kalian bisa mandi menggunakannya bertiga. Nanti, Ibu buatkan minuman hangat untuk kalian, ya!”
Situasi itu membuat Sungmin dan Ryeowook sedikit canggung tapi nyaman, “Keluargamu ramah sekali, Donghae..” Bisik Ryeowook.
Donghae hanya tersenyum sambil berjalan menaiki tangga yang pegangannya terbuat dari kayu dan berwarna putih, “Ayo, kita mandi. Nanti kalian pakai bajuku saja,” ajaknya.
Ia masuk ke kamarnya sebentar, kemudian mengambil 3 pasang pakaian dan 2 buah handuk baru untuk kedua temannya.
Beberapa saat setelah mereka selesai mandi, mereka ke ruang makan. Di sana ada Ibu Donghae sudah menyiapkan 3 cangkir coklat hangat dan roti panggang.
“Sudah, mandinya?” tanya Ibu.
Ketiganya mengangguk, “Wahh... harum sekali, Ibu... tahu saja aku sudah lapar..” ucap Donghae.
“Ehm... aku pamit pulang, ya!” ucap Sungmin.
“Eh? Kenapa?” tanya Donghae.
“Ini sudah terlau sore. Aku takut Paman dan Bibiku khawatir”.
“Hmmmm....” Wajah Donghae tampak kecewa, sambil memandang ke arah ibunya.
“Bagaimana kalau kau menelepon ke rumahmu? Kau dapat menggunakan telepon di rumah ini”.
Sungmin tampak sepeti sedang berpikir.
“Ayolah...” bujuk Donghae. Nanti setelah makan, aku dan Ayah pasti akan mengantar kalian pulang”.
“Hmm... baiklah,” ujar Sungmin.
Tak lama setelah menelepon, Sungmin kembali. Mereka menikmati makanan dan minuman yang disajikan oleh Ibu Donghae sambil bercakap-cakap.
“Jadi Sungmin tinggal dengan Paman dan Bibi, ya?” tanya Ibu Donghae, Sungmin mengangguk. “Memangnya orang tua Sungmin ada dimana?”
“Hmmm... Orang tuaku adalah Paman dan Bibiku” Jawabnya singkat.
“Ooh....” Ibu Donghae mengerti akan jawaban Sungmin. Dia berpikir, pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam keluarganya yang tidak ingin Sungmin bicarakan, sehingga ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh dan beralih kepada Ryeowook. “Ryeowook, kamu tidak mau menelepon ke rumahmu?”
Ryeowook menggeleng sambil tersenyum, “Tidak...”
“Mengapa? Orang tuamu tidak akan khawatir?”
Ryeowook tersenyum dan mengangkat kepalanya, “Tidak. Ayah hari ini tidak pulang”.
“Ibumu ?” tanya Ibu Donghae.
“Ibuku sudah meninggal karena kecelakaan 2 tahun lalu”. Ibu Donghae, Donghae, dan Sungmin terkejut mendengar jawaban Ryeowook dan menghentikan makan mereka sambil menatap wajah anak itu.
Donghae kemudian teringat 2 tahun lalu, saat sekolah mereka heboh karena ada orang tua dari salah seorang siswa meninggal. Biasanya setiap tahun, ayah dari siswa tersebut, yang katanya seorang pianist, selalu mengisi acara di sekolah, namun sejak saat itu tidak lagi. 'Apakah yang meninggal itu adalah orang tuanya Ryeowook? Kalau ibunya yang meninggal, mengapa ayahnya tidak pernah mengisi acara di sekolah lagi?' pikirnya.
>>>next>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar