Malam itu, Sungmin berkemas, karena pukul 8 Youngwoon akan menjemputnya. Saat Sungmin sedang memasukan pakaiannya ke dalam tas, ada yang mengetuk pintu kamarnya, “Ya, silahkan masuk!”
“Ya, Bibi, ada apa?”
“Masih berkemas, ya?” Bibi berjalan menuju Sungmin, dan duduk di sampingnya.
“Iya. Sebentar lagi temanku akan menjemput”.
“Bibi senang kamu memiliki banyak teman. Prestasi sekolahmu juga bagus. Kalau orang tuamu tahu, mereka pasti bangga. Bibi saja yang bukan orang tua kandungmu turut bangga”.
“Bibi, jangan sebut-sebut mereka lagi. Bagiku, Paman dan Bibi adalah orang tuaku. Orang tuaku adalah Kalian, bukan mereka...”
“Maafkan Bibi, Sungmin ah..” ucap Bibinya dalam hati. “Tadi Ibumu menelepon,” ucap Bibinya.
Tidak ada respon apa pun dari Sungmin, baik kata-kata, maupun ekspresi wajah. Semuanya datar. Sungmin seolah tidak mendengar.
“Dia menanyakan kamu sudah kelas berapa, dan memintamu untuk melanjutkan kuliah di sana, agar kau bisa bersama kedua orang tuamu”.
Bip.. Biip..Biiip...
Ponsel Sungmin berbunyi, “Ya, Sunbae?” ucapnya. “Oh, Sunbae sudah di bawah? Oke, aku akan segera turun”. Sungmin memasukan ponselnya ke dalam tas, kemudian ia menarik sletingnya dan berdiri. Ia membungkukan tubuhnya, “Bi, aku berangkat dulu, ya!”
“O.. ya... hati-hati di jalan, ya!”
Sungmin pergi ke luar tanpa memberikan tanggapan apa-apa atas ucapan Bibinya.
Woi.. Minnie ah..!” teriak seseorang dari seberang jalan.
Sungmin celingukan mencari sumber suara, sampai akhirnya menemukan Youngwoon. Ia menyebrangi jalan itu dan menuju ke arah Youngwoon.
Sekitar pukul 9 malam, mereka baru tiba di rumah Youngwoon. Rumahnya besar, megah, namun tampak sepi. Sungmin mengamati langit-langit teras rumah itu sedangkan Youngwoon menekan bel. Tak lama, seseorang membukakan pintu. Seorang gadis yang tampaknya lebih muda dari mereka, memakai pakaian tidur berwarna merah, berjulit putih, pendek, langsing, dan rambutnya diikat dua muncul dari balik pintu dan langsunng memeluk Youngwoon.
“Oppa... aku merindukanmu!!!”
“Hey... Kau pulang?” Youngwoon tampak terkejut, kemudian melepaskan pelukan gadis itu, “Perkenalkan, ini adikku, Taeyeon. Taeng, ini Sungmin, temanku”.
“Anyeonghasaeyeo” Taeyeong menundukan kepalanya, begitu pula Sungmin. “Oppa, teman Oppa tampan sekali..!!” ucapnya.
Sungmin hanya sedikit terkejut karena dipuji oleh orang yang belum terlalu dia kenal.
“Haha... Kau tidak sopan, berkata begitu di hadapannya..” Youngwoon melangkahkan kakinya ke dalam rumah. “Ayo, masuk!”
“Ehm... lalu bagaimana kabar teman Oppa yang kecil sepertiku?”
“He?” Sungmin terkejut dengan kata-kata Taeyeon, karena, sekecil-kecilnya laki-laki seumuran Youngwoon, apalagi para anggota klub basket, mana ada yang sekecil Taeyeon.
“Maksudnya Donghae..” bisik Youngwoon.
“Ohh..” Sungmin baru merasa, itu benar juga, Donghae kan sangat kurus.
“Ku dengar dia diterima di klub basket nasional, Oppa? Apakah itu benar?”
“Wah.. itu sudah lama sekali.. tahun ini, saat aku lulus, dia akan menjadi kapten, menggantikanku!” ujar Youngwoon.
“Wah... bagus sekali itu!” Taeyeon terlihat senang.
“Kau menyukai Donghae, ya?”
“Eh? Sungmin oppa kenal?” tanya Taeyeon.
“Sungmin itu, sahabat dekatnya Donghae,” jawab Youngwoon.
“Oya?” Lagi-lagi Taeyeon memekik dengan girang. Kemudian gadis itu menggandeng tangan Sungmin dengan manja dan mendudukannya di sofa. “Oppa mau minum apa? Biar aku buatkan!”
“Tidak usah, terimakasih” ucap Sungmin datar.
“Hmm... Oppa dingin sekali..”
Youngwoon tersenyum ke arah mereka berdua sambil berlalu ke dalam.
“Sudah malam, dan sejak pagi juga udaranya memang dingin, bukan?”
“Hmmm... bukan dingin yang itu..” ralat Taeyeon, namun Sungmin tak menghiraukannya. “Oppa, aku menyukai Donghae oppa, namun Youngwoon oppa tak mau membantuku”.
“Oh..”
“Oppa mau membantuku?” tanyanya
“Hmm... sebaiknya kau katakan langsung pada Donghae..”
“Tidak... aku mau Donghae oppa yang mengatakan padaku..”
“Hmm.. aku sih tak yakin Dongahae akan tertarik padamu. Setidaknya, jadilah seorang wanita dewasa”.
“Hm.. apakah Donghae oppa menyukai wanita dewasa?”
“Tidak tau.. tapi dia dekat dengan Ibunya, biasanya, laki-laki yang dekat dengan Ibunya selalu mendambakan wanita yang memiliki sifat seperti Ibunya”.
“Ooh.. Baiklah, mulai sekarang, aku akan menjadi wanita dewasa!!”
“Kakakmu mana?”
“Mungkin di kamarnya, mari ku antar..” Mereka jalan menuju kamar Youngwoon. Dari ruang tamu sampai kamar Youngwoon jaraknya tidak berapa jauh, namun lorong yang dilewati cukup panjang. Warna cream mendominasi tembok rumah itu sehingga tampak hangat.“Nah... ini dia kamarnya..” Ucap Taeyeon lalu pergi.
Kamar Youngwoon terbuka pintunya. Sungmin tidak memasuki kamar itu, ia mengamatinya dari luar. Kamar itu sangat luas, lebih luas dari pada kamar Donghae dan Ryeowook. Terdapat tempat tidur yang luas di sisi bagian kirinya, di samping tempat tidur tersebut terdapat sebuah meja belajar lengkap dengan komputer, di sebelah kanan terdapat sebuah televisi ukuran 32”, dan di sampingnya ada sebuah gitar. Gitar tersebut bersandar pada sebuah sofa ukuran medium berwarna cokelat. Di samping kursi itu terdapat 2 buah pintu yang berdampingan, entahlah pintu itu menyambung ke ruangan mana.
Sungmin melihat dinding-dinding kapar itu. Ada beberapa foto yang tergantung pada dinding itu. Ada foto dirinya bersama teman bandnya, foto bersama klub basket, dan yang paling besar dan mencolok di sana adalah foto dirinya bersama kedua orang tuanya dan Taeyeon. Ibu Youngwoon menggenakan Hanbok bewarna merah, Ayahnya menggenakan pakaian formal, stelan jas-celana hitam, kemeja putih, dan dasi berwarna abu-abu. Youngwoon sendiri menggenakan pakaian basket lengkap dengan sepatunya, serta medali yang dikalungkan, dan bola basket yang ia pegang di tangan sebelah kanannya, dan Taeyeon, ia menggenakan baju mayoret berwarna merah biru., lengkap dengan topinya, serta di tangan kirinya, ia memegang tongkat mayoret.
Saat sedang mengamati gambar itu, Youngwoon memanggil namanya. Ia keluar dari dalam ruangan di dalam kamar itu, dari salah satu pintu yang tadi Sungmin amati, dengan menggenakan handuk di setengah badannya, sementara bagian badannya tak memakai apa-apa.
“Masuklah, Minnie ah..” ucapnya. Sungmin masuk dan duduk di atas sofa coklat di samping televisi, sementara Youngwoon membuka pintu satunya dan masuk ke ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Youngwoon keluar dengan pakaian tidur lengkap dan duduk di sebelah Sungmin, “Ayolah.. jangan terlalu segan! Anggap saja ini rumahmu!” Youngwoon mengambil tas Sungmin dan membawanya ke ruangan tempat tadi ia menggenakan pakaian, “Kalau mau mandi, ke ruangan yang ini,” ia menunjuk pintu di sebelah ruangan dimana ia meletakan tas Sungmin, Ganti bajunya di sini..”
Sungmin mengangguk dan mengambil handuk dan pakaiannya di tempat Youngwoon menyimpannya, kemudian pergi mandi. Di kamar mandi Youngwoon, kran airnya memiliki 2 warna, dimana yang satunya untuk air hangat dan lainnya air dingin. Sungmin mengatur keduanya agar hangatnya pas.
Beberapa saat kemudian ia selesai mandi dan mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk. Saat bercermin di depan watafel, ia melihat dari hidungnya keluar cairan berwarna merah, darah. “Aish... lagi-lagi..” keluahnya. Ia membasuh darah itu, namun darah itu seolah tidak berhenti keluar, terus menerus, semakin lama semakin mengental dan berwarna kehitaman, namun beberapa saat setelah itu, darahnya berhenti keluar. Saat mengalihkan wajahnya dari cermin, mata Sungmin berkunang-kunang, tubuhnya lemas, pengelihatannya semakin lama semakin tidak jelas, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh di sebelah wastafel.
Diluar ruangan, Youngwoon heran, ini sudah hampir jam 12 malam dan Sungmin belum keluar, dari dalam pun tidak ada suara apa-apa. Ia mengetuk pintu kamar mandi, dengan pelan, “Lee Sungmin, ini sudah hampir jam 2. Kau tertidur di dalam?” Tidak ada suara. Youngwoon mengetuk pintu dengan agak keras, namun tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Youngwoon mengambil kunci serep dan membuka pintu itu. Ia melihat Sungmin duduk bersandar pada tembok sebelah wastafel dalam keadaan tidak sadar. Ia menggendong Sungmin ke atas tempat tidur dan menelepon dokter untuk segera datang.
Youngwoon sangat panik. Kalau Sungmin adalah Ryeowook, ia masih bisa menyangka hal ini akan terjadi, sekalipun di sekolah, Ryeowook belum pernah pingsan. Namun ini Sungmin, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, setiap hari selalu terlihat baik-baik saja, tiba-tiba ia tidak sadarkan diri.
Tak lama dokter datang dan memeriksanya. Setelah itu, ia berbicara dengan Youngwoon di tempat yang terpisah.
“Sebenarnya ia sakit apa, dokter?” tanya Youngwoon.
“Ia temanmu?”
“Ya..”
“Dia hanya kelelah”.
“Kelelahan, mengapa bisa sampai pingsan begini?”
“Temanmu memiliki anemia, jadi mudah sekali untuk lelah,” Jawab Dokter.
“Anemia itu apa, ya?” tanya Youngwoon.
“Anemia itu, keadaan dimana sel darah merahnya di bawah normal”. Namun Youngwoon tampakmasih bingung dengan penjelasan dokter, sehingga ia menjelaskannya lagi, agar Youngwoon lebih mengerti, “Kurang darah”.
“Kurang darah? Apakah itu parah?”
“Sebenarnya tidak terlalu parah, namun tetap tergantung penyebab fisiologisnya apa”.
“Memang Dokter tidak bisa mengetahui lebih dalam lagi, apa penyebabnya?”
“Melalui pemeriksaan, bisa. Tapi aku tak mungkin melakukan pemeriksaan tanpa seijin yang bersangkutan. Kalu kau mau, kau bisa membawanya besok ke tempat praktikku”.
“Baiklah...” Youngwoon mengangguk.
Setelah mengantar dokter itu ke depan pintu, Youngwoon masuk ke kamarnya dan berbaring di sebelah temannya itu. Ia memandang ke arah Sungmin yang belum sadarkan diri. Wajahnya lebih putih dari biasanya. Ada ketakutan dalam dirinya bila Sungmin meninggal, namun itu cepat-cepat ia usir dari pikirannya, sesaat kemudian, ia pun terlelap.
>>>Next>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar