Sekitar pukul 5 pagi, Sungmin terjaga. Ia terkejut karena ia mendapatkan dirinya di tempat yang asing. Kemudian ia melihat ke sebelah kirinya, Youngwoon ada di sana sedang tertidur. Setelah agak lama terdiam, ia baru bisa mengingat kalau dirinya berada di rumah Youngwoon.
Dengan kepala yang masih agak pening, Sungmin beranjak dari tempat tidur itu dan ke luar kamar. Tubuhnya terasa sangat ringan, sampai sulit untuk menegakan kedua kakinya di atas lantai. Ia berpegang pada tembok dan berjalan menuruni tangga. Sesampainya di bawah, ia mendengar suara dari lantai bawah, sejenak ia terdiam, kemudian berjalan mengikuti arah suara itu. Sungmin terus berjalan dengan tatapan kosong, ia menghampiri suara itu dan tiba di halaman belakang rumah Youngwoon.
“Oppa?” panggil sebuah suara. Sungmin terkejut dan melihat ke arah suara itu. Berdirilah Taeyeon, adik Youngwoon yang masih memakai baju tidur, sedang memakai celemek berwarna merah dengan sarung tangan plastik di tangannya. “Selamat pagi!!”
“Pagi..” ucap Sungmin sambil memegangi dadanya. “Kau mengagetkanku..”
Taeyeon tersenyum, “Oppa ada apa pagi-pagi sudah ke dapur?”
“Hmm... aku mendengar suara, jadi aku kemari..”
“Oh... kukira lapar..” ujarnya. “Oppa, mau coba ramen buatanku?” Taeyeon mengambil mangkuk dan menuangkan ramyeon buatanya ke dalam mangkuk tersebut, dan membawanya ke meja makan. “Oppa, kemari... cobalah ramen buatanku!”
Sungmin yang sejak tadi berdiri menghampiri Taeyeon dan duduk di kursi yang telah disediakan oleh gadis itu.
“Aku baru mencoba memasaknya. Aku ingin memberikan ini pada Donghae oppa.. Kudengar, ia sangat menyukai Ramyeon. Hanya saja aku kurang percaya diri.. Youngwoon oppa selalu berkata kalau masakanku tidak enak..”
Sungmin mencobanya, ia menyendok kuahnya. Begitu memasukan ke dalam mulut, ia langsung mengernyitkan keningnya, “Kurasa apa yang Youngwoon bilang memang benar...”
“Maksud Oppa?”
“Memang tidak enak,” Ujar Sungmin tanpa ekspresi.
Taeyeon menunduk, terlihat kesal dan sedih, “Padahal aku sudah memasukan bahannya sesuai resep..”
Melihat seorang gadis seperti itu, Sungmin menjadi kasihan, “Boleh aku lihat buku resepnya?”
Taeyeon mengangguk dan memberikannya kepada Sungmin. Itu adalah buku resep masakan jepang. “Aku sudah memasukan semua bahan sesuai takarannya”. Taeyeon mulai menyebutkan semua bahan-bahan yang diperlukan beserta takarannya.
Sungmin pun bingung. Buku resep itu sudah menjelaskan dengan sangat jelas. Sekalipun orang yang mencobanya tidak memiliki bakat masak, seharusnya rasanya akan tetap enak.
“Kamu yakin ini semuanya tidak ada yang terlewat?”
“Tentu saja...” Taeyeon mengangguk dengan yakinnya.
“Coba aku lihat bahan-bahannya?” Sungmin beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur. Taeyeon mengikuti dari belakang. Sungmin mengamati setiap bahan memasak yang Taeyeon miliki. “Cola?” matanya tertuju pada sebotol cola. “Kamu pakai ini untuk memasak ramen?”
Taeyeon mengangguk.
“Ini kan bukan bumbu masak”.
Sekarang giliran Taeyeon yang mengernyitkan dahinya, “Kecap inggris bukannya bumbu masak, ya?”
Baiklah, sekarang Sungmin mengetahui letak kesalahan Taeyeon. “Di Jepang, memang ada kecap inggris dengan merek dagang ini, tap di Korea, merek dagang ini bukan untuk kecap inggris, melainkan untuk cola.. sekarang tahu letak kesalahannya dimana?”
Taeyeon menggeleng, “Buku ini menyebutkan harus memakai kecap inggris dengan merek dagang ini”.
Sungmin tidak tahu harus berkata apalagi, karena menurut dirinya, yang ia katakan sudah cukup jelas. “Masih ada bahan yang tersisa?” tanyanya.
“Iya, ada!” Dengan sigap, Taeyeon mengambil bahan-bahan yang tersisa, “Kau masih tetap ingin memberi ramen pada Donghae?” tanyanya.
Taeyeon mengangguk.
Akhirnya Sungmin memasakan ramen untuk Taeyeon agar ia bisa memberikannya pada Donghae.
Taeyeon memperhatikan Sungmin yang sedang memasak. Ia tercengang. Orang yang terlihat dingin seperti Sungmin dapat memasak dengan sangat terampil. Mulai dari memotong daging, sayuran, sampai memilih dan memotong bagian tulang yang tepat untuk dijadikan kaldu. Dia tidak memperhatikan bagaimana Sungmin melakukannya, melainkan memperhatikan wajah Sungmin yang terlihat serius. “Ia bahkan tidak melihat buku resep..” ujarnya dalam hati.
1 jam kemudian, ramen telah selesai. “Hei..” Panggil Sungmin pada Taeyeon yang sedang melamun.
“Ah? Iya?”
“Ini sudah jadi!”
Taeyeon mengambil mangkuk dan mencicipinya, “Wah... enak sekali!” ucapnya, sambil menyiduk ramen itu lagi. “Bagaimana bisa Oppa masak seenak ini?” tanyanya, Sungmin tidak menjawab itu, ia hanya tersenyum.
“Minnie ah, kamu sudah bangun?” tanyanya.
“Eh, ya, Sunbae?”
Youngwoon menghampiri Sungmin dan memegang wajahnya, tentu saja Taeyeon keheranan,”Oppa kenapa menyentuh Sungmin Oppa seperti itu?”
“Tidak..” Youngwoon duduk di meja makan yang tak jauh dari situ. “Minnie ah, agak siangan ikut aku, yah!”
“Oppa mau kemana?” tanya Taeyeon.
“Bukan urusanmu..” jawabnya dengan nada agak tinggi.
“Uhm..” Taeyeon menunduk. “Oppa tidak ke lapangan pagi ini?” tanyanya.
Youngwoon menggeleng, “Aku ada urusan lain, selain itu, mulai hari senin akan ada ujian, jadi seminggu ini tidak akan ke lapangan”.
“Yahh......” Taeyeon terdengar kecewa. “Tapi aku ingin memberikan ini pada Donghae Oppa....”
“Berikan saja sendiri”.
Hari itu Youngwoon sedikit berbeda dengan biasanya. Hal ini mungkin dikarenakan kejadian semalam, dimana ia merasa sangat cemas dengan keadaan Sungmin. Beberapa jam setelah itu, Youngwoon dan Sungmin pergi ke tempat dokter itu praktik, Youngwoon tidak memberitahu Sungmin kemana mereka pergi. Di dalam mobil itu, suasananya sangat sunyi. Youngwoon bahkan tidak berani memandang Sungmin.
Youngwoon sebenarnya tidak suka dengan situasi seperti itu, namun Sungmin tak pernah memulai pembicaraan, bahkan ia tidak bertanya kemana mereka akan pergi.
Barulah setelah sampai. Sungmin bertanya, “Dokter?”
“Iya..”
“Kau sakit apa?” tanyanya. Youngwoon tidak menjawab.
Mereka masuk ke tempat praktek dokter itu. Sungmin duduk, sementara Youngwoon ke tempat administrasi.
Sambil menunggu Youngwoon, Sungmin duduk dengan pandangan berkeliling. Sungmin melihat saat pintu dari salah satu ruangan di situ terbuka. Dari dalam situ keluarlah seorang pria dewasa, memakai setelan jas berwarna abu-abu, dengan kemeja putih, dengan dasi pink. Dimatanya, terdapat kacamata hitam. Ia berjalan dengan kepala menunduk.
Sungmin memperhatikan orang itu, seolah pernah melihatnya, namun dengan tampilan yang berbeda. Laki-laki yang biasanya berjalan dengan kepala yang tegak dan terkesan sombong itu sekarang berjalan dengan kepala menunduk. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Minnie ah, ayo masuk”.
“He? Aku?”
“Iya..”
Sungmin menurut saja, sekalipun dalam pikirannya masih ada tanda tanya, mengapa Youngwoon membawanya ke tempat itu. Kemudian Sungmin duduk di kursi yang disediakan, di depan meja dokter yang semalam memeriksanya, Youngwoon duduk di sebelahnya.
“Tuan Lee Sungmin,” ucap dokter.
Sungmin mengangguk dan menatap mata dokter itu.
“Semalam Anda tidak sadarkan diri. Analisis sementara, Anda mengalami anemia. Kemudian Tuan Kim ini meminta saya untuk memeriksa lebih lanjut. Namun pemeriksaan ini tak akan berjalan tanpa persetujuan dari Anda”.
“Hmm... “ Sungmin terdiam sesaat sebelum menjawab, “Tentang hal ini, aku sudah mengetahuinya sejak SMP. Aku memiliki anemia kronis. Bila terlalu lelah, aku akan pingsan. Tapi ini tidak masalah selama aku dapat mengendalikannya”.
“Semalam kau pingsan di kamarku, bagaimana aku tidak panik...” ucap Youngwoon.
“Kadang aku tak ingat kalau aku pingsan, maafkan aku, Sunbae, karena telah membuatmu khawatir”.
“Jadi sekarang bagaimana, mau diperiksa, tidak?” tanya Youngwoon.
“Kurasa tidak usah,” jawab Sungmin.
“Bagaimana, Tuan Kim? Saya tak dapat melanjutkan pemeriksaan”.
“Baiklah.. Terimakasih Dokter, maaf telah membuang waktumu,” ucap Youngwoon.
Sepanjang perjalanan, suasana sunyi senyap. Tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Youngwoon bahkan tidak berani menatap Sungmin. Ada perasaan tidak enak bercampur malu dalam hatinya. Ia terlalu panik dan emosional sehingga membawa adik kelasnya ke dokter tanpa persetujuannya.
“Sunbae, terimakasih, ya... maaf merepotkanmu”.
“Tidak... Aku yang minta maaf, aku terlalu panik, jadi seperti ini..”
>>>Next>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar