Jumat, 15 April 2011

Reset Chapter 3 (Part 1)


Reset
Chapter3
Miracle
Main Cast: Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Donghae

“Selamat atas terpilihnya Lee Donghae sebagai salah satu pemain basket yang akan mewakili Seoul untuk tampil di event basket tingkat nasional” Itulah yang tertulis di karangan bunga di depan sekolah Donghae.

Donghae, yang tidak membaca tulisan tersebut,  keheranan, apa yang terjadi di sekolah? Begitu banyak karangan bunga di depannya. Sesampainya di kelas, semua orang menyalaminya dan memberi selamat kepadanya.

“Ooh... jadi karena itu, di depan sekolah banyak sekali bunga?” ucapnya sambil mengangguk-angguk dan mata agak sedikit menerawang ke langit-langit kelas.

“Kau agak bodoh, ya, Donghae!” ucap Kim Youngwoon, salah satu senior yang sama-sama bermain di Tim Basket itu, sambil tertawa.

“Ya... begitulah... tapi jika dibandingkan denganmu, kau lebih bodoh lagi,Hyung...hahaha...” Donghae membalasnya sambil tertawa juga.

Di sekolah itu, Youngwoon dan Donghae cukup terkenal karena keterampilan mereka dalam bermain basket. Mereka memiliki persamaan dalam beberapa hal, seperti hobi, dan pelajaran.

Berbeda dari kedua rekannya yang selalu menduduki peringkat 2 besar, Donghae termasuk level payah dalam hal pelajaran. Setiap mau ujian, Donghae mengajak Sungmin dan Ryeowook untuk menginap di rumahnya untuk menemani dia belajar.

Siang itu, Youngwoon datang ke kelas Sungmin. Di sebelah Sungmin duduk Ryeowook yang keheranan mengapa Racoon Sunbae mendatangi kelasnya, biasanya dia baru datang kalau ada Donghae, tapi kali ini tidak.

“Sungmin ah, maukah kamu menginap di rumahku?” tanya Youngwoon yang akan menjalani ujian kelulusan 3 hari lagi.

“Untuk apa?” tanya Sungmin.

“Temani aku belajar untuk ujian kelulusan..”

Sungmin tersenyum miris, “Yaampun... Aku baru tahu ada senior yang minta ditemani  belajar untuk ujian kelulusan oleh juniornya”

“Ayolah.... Sekalian, ada yang ingin kubicarakan denganmu”.

“Baiklah, aku akan datang, tapi Sunbae jemput aku, ya! Aku tak tahu rumah Sunbae dimana”.

“OK! Jam 8 malam aku menjemputmu, ya! Lalu, jangan sampai Donghae tahu soal ini!” bisik Youngwoon, “Sampai jumpa, Minnie ah... Dah Wookie ah...”

Di depan pintu, Youngwoon yang berbadan besar nyaris bertabrakan dengan Donghae yang berbadan kecil.

“Mwo?... ada apa kau datang kekelas mereka?” tanya Donghae sambil menengadah karena badannya kalah tinggi.

“Maaf, hampir saja aku menabrakmu.... makan yang banyak ya... agar aku dapat melihatmu dengan jelas...” candanya sambil mengelus-elus kepala Donghae. “bye... Doggie Hae..”

Donghae tertawa, “Tidak biasanya dia ke sini? Ada apa?”

“Menemui Sungmin Hyung..” jawab Ryeowook sambil tersenyum-senyum.

“Hmm? Ada perlu apa dia denganmu?”

“Ini urusan orang dewasa.... anak kecil tak perlu ikut campur!” canda Sungmin sambil berdiri dan pergi dari tempat duduknya.

“Hey.... Kau tidak bermaksud mengatakan aku pendek, kan?... Wookie ah lebih pendek dariku!” Sungmin sudah berlalu. Donghae duduk di sebelah Ryeowook. “apa sih yang mereka bicarakan? Kamu tidak mau mengatakannya padaku?”

“Tidak tahu”

“Bohong...Kalau Wookie ah bohong.... maka aku akan............ akan......... akan menciummu....”
“Silahkan kalau berani...”

“Tentu saja aku berani...” Donghae mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ryeowook sementara tangannya menopang kepalanya. Semua mata siswa yang ada di situ tertuju pada mereka.

Ryeowook terlihat tegang karena takut Donghae akan benar-benar menciumnya, akhirnya dia bereteriak, “Racoon Sunbae bilang jangan beritahu Donghae..”

“Hahaha...” Tawa Donghae meledak.

“Donghae jahat....” keluh Ryeowook.

“Maafkan aku.... aku hanya bercanda... Mana mungkin aku rela ciuman pertamaku diambil olehmu..” Ujar Donghae sambil tertawa puas.

Bel tanda istirahat berakhir selesai. Sungmin datang mengusir Donghae, dan Donghae kembali ke kelasnya.

Pelajaran berikutnya adalah pelajaran matematika. Ryeowook mengambil kelas khusus matematika, sehingga dia tidak takut ketinggalan pelajaran ini sekalipun dia tidak memperhatikan.
Siang itu pikiran Ryeowook tertuju pada Sungmin. Dia memandangi Sungmin. Hatinya kagum sekaligus iri pada sahabatnya itu. Dari sisi materi, okelah, Ryeowook lebih beruntung dari Sungmin, tapi apalah artinya itu semua, dibandingkan kasih sayang dari orang terdekat. Sungmin, walau dia tidak tinggal bersama orang tua, setidaknya, Paman dan Bibinya menyayangi dia tanpa dibayar, sedangkan Ryeowook, pelayan di rumahnya memang menyayangi dia, tapi Ayah membayar mereka untuk itu. Kadang Ryeowook berpikir, mengapa Ayah tidak memecat semua pelayannya dan hanya mencurahkan kasih sayang padanya.

“Lee Sungmin, coba kau jelaskan persoalan nomor 6!” panggil Pak Guru.

Sungmin maju ke depan, menuliskan cara menjawab persoalan itu, sambil menjelaskan langkah-langkahnya.

Lagi-lagi dalam pelajaran pun, Sungmin menjadi Master. Ryeowook iri juga karena masalah yang satu ini. Dia kagum dengan cara sahabatnya menjelaskan persalan itu. Dia mana bisa menerangkan sejelas yang Sungmin lakukan, sekali pun sebenarnya memahami persoalan tersebut.

Sesaat kemudian, Sungmin kembali. Dengan pandangan tetap ke papan tulis, ia memanggil Ryeowook, “Wookie ah, mengapa memandangiku seperti itu?”

“Hah?”

“Ya, aku melihatnya, kau menatapku dengan pandangan yang aneh”.

“Maksudmu?” tanya Ryeowook.

“Sudahlah, lupakan”.

“Hmm.... Hyung tahu, aku iri padamu..” ucapnya pelan.

Sungmin mengambil pensilnya. Sambil menulis, dia berkata, “Kalau kau jadi aku, kau akan tahu, betapa beruntungnya seorang Kim Ryeowook”.

>>>Next>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar