Jumat, 15 April 2011

Reset Chapter 1 (Part 2)

Ryeowook merasa tidak enak karena ditatap oleh tiga pasang mata seperti itu, “Eh.. Tidak usah menatapku seperti itu, aku sudah biasa kok tinggal sendiri di rumah. Lagi pula ada beberapa pegawai Ayah yang menemaniku”.
“Ehmm... Maafkan Bibi,” Ibu Donghae tampak sangat menyesal.
“Tidak apa-apa, bi. Aku tak keberatan bila ada yang bertanya padaku mengenai orang tuaku”.
“Ehm.. Ayahmu kerja apa? Mengapa tidak pulang?” tanya Donghae.
“Ayah mengurus perusahaan keluarga. Karena ada beberapa cabang di luar kota, sehingga dia jarang pulang”.
“Kau pasti sangat kesepian. Sekali-sekali, kau boleh menginap di rumahku. Kau juga Sungmin..” ucap Donghae sambil memeluk Ryeowook yang ada di sebelahnya.

Waktu menunjukan pukul 6 sore. Ayah Donghae mengantar mereka pulang dengan mobilnya. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sederhana 2 lantai yang di atasnya terdapat palang bertuliskan “Kedai Ramyeon”.
“Jadi rumahnya Sungmin itu kedai ramyeon, ya?”tanya Donghae, dijawab oleh anggukkan dari Sungmin. “Ayah, aku mau makan Ramyeon!” rengek Donghae, “Sungmin, boleh kami mampir sebentar?” tanya Donghae.
“Tentu” Sahut Sungmin. Anak itu berjalan masuk mendahului yang lain ke dalam kedai yang juga merangkap sebagai rumahnya. “Paman, Bibi, aku sudah pulang...!” ujarnya dengan suara keras, diikuti oleh Ryeowook, Donghae, dan Ayahnya. “Bibi,  mereka kedua temanku, Ryeowook dan Donghae..”
“Anyeonghasaeyo..” Ryeowook dan Donghae membungkukan badan.
“Dan ini Ayahnya Donghae. Aku diantar pulang olehnya”
“Anyeonghasaeyo..” Ayah Donghae membungkukan badan.
“Anyeonghasaeyo.. terimakasih telah mengantar Sungmin” Ucap Bibinya dengan ramah.
Dari atas, Paman Sungmin datang menghampiri mereka. Sungmin langsung memperkenalkan mereka pada Pamannya.
“Ahh.... Anyeonghasaeyo.. Terimakasih telah mengantarkan Sungmin kami sampai di rumah,” Ucap Paman sambil membungkukan kepalanya berkali-kali.
“Tidak perlu sungkan,” Ujar Ayah Donghae.
“Mari kita makan Ramyeon dulu kalau tidak keberatan”. Paman mempersilahkan mereka duduk di sebuah meja yang cukup besar agar mereka dapat duduk dengan nyaman dan leluasa. Sementara bibi menyiapkan ramyeon, Sungmin membantu menyiapkan teh barley hangat.
 “Selamat makan!” ucap Donghae, setelah semua hidangan telah siap di atas meja.
Paman dan Bibi memperhatikan mereka yang makan dengan lahapnya dengan senyum gembira. Beberapa saat kemudian mereka selesai makan dan pamit pulang. Bibi Sungmin membungkuskan beberapa ramyeon untuk dibawa pulang oleh Ryeowook dan keluarga Donghae.
“Anggaplah ini sebagai ucapan terimakasih kami..”
“Ah... baiklah... Terimakasih kalau begitu! Kami pulang!” Pamit Ayah Donghae.
“Termakasih, Paman, Bibi..” Ucap Donghae dan Ryeowook.
Selanjutnya, mereka mengantar Ryeowook. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Sungmin, “Rumahmu jauh juga, ya?...” komentar Donghae. “Oiya, aku pernah beberapa kali melihatmu dijemput, mengapa hari ini tidak?” tanyanya.
“Paman yang biasanya menenyupir sedang sakit, jadi aku meminta untuk tidak dijemput,” jawab Ryeowook.
“Oh... lalu kira-kira masih berapa jauh lagi? Pemandangan di sini bagus, ya!” Seru Donghae.
“Nah, yang di depan itu rumahku!” Ucap Ryeowook sambil menunjuk pada tembok putih yang sedang dilewati mobil itu.
Donghae melihat ke arah yang Ryeowook tunjuk, “Ehm... ini... dimana pintunya?” pikirnya.
“Di depan belok kiri, nanti ada pintu gerbang berwarna putih,” ucapnya.
Tembok yang Ryeowook tunjuk tadi cukup panjang. Sebelum sampai di depan pintu gerbang, mereka harusmenempuh jarak sekitar 500m dari ujung jalan.
“Wah... ini rumahmu, Ryeowook?” tanya Donghae sesaat setelah mereka berhenti.
“Ya.. begitulah. Mau mampir dulu?” Tanya Ryeowook sambil turun dari mobil. Ayah Donghae dan Donghae turun mengikuti Ryeowook.
“Tidak, terimakasih. Tapi ini sudah terlalu malam,” jawab Ayah Donghae.
Pintu gerbang tebuka, seorang laki-laki kira-kira berumur 40 tahun muncul dari balik pintu, berdiri dengan postur tubuhnya yang tegap sambil membawa payung.
“Tuan muda sudah pulang? Tadi supir Ayah Tuan menjemput ke Sekolah, tapi Tuan Muda tidak ada. Kami sangat khawatir”. Ucapnya.
“Maafkan aku, Paman,” ucap Ryeowook. “Ini Lee Donghae, dan Ayahnya, Paman Lee. Mereka yang telah mengantar aku pulang”.
Sesaat laki-laki itu  memandang ke arah Donghae dan Ayahnya, kemudian membungkukan badannya, “Saya, sebagai Kepala Pelayan, mewakili keluarga ini, sangat berterimakasih telah mengantarkan Tuan Muda kami dengan selamat”.
“Tak perlu sungkan,” ujar ayah Donghae
Bersamaan dengan Ayah Donghae mengucapkan itu, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan gerbang. Pintu mobil itu  terbuka, seorang laki-laki berusia sekitar 30an keluar dari mobil itu. Ia menggenakan blazer berwarna hitam dan matanya menggenakan kacamata hitam.
“Tuan,” Kepala Pelayan itu membungkukan badan. “Ini Tuan Lee, Beliau mengantarkan Tuan Muda Ryeowook”.
Laki-laki itu menghampiri Donghae dan Ayahnya dengan langkah yang tegap, kemudian menundukkan kepalanya, “Terimakasih telah mengantarkan anakku pulang”. Ucapnya. Kemudian laki-laki itu masuk ke dalam rumah.
Suasana agak sedikit berbeda sepeninggalan Ayah Ryeowook. Agak kaku.
“Baiklah, kami pulang dulu, yah!”
“Sampai jumpa besok!” Ujar Donghae.
“Kamshamnida...!” Balas Ryeowook sambil membungkukan badannya.
Setelah mobil itu berlalu, Ryeowook hendak masuk ke dalam rumahnya dan berpapasan dengan Ayahnya. Sesaat, Ryeowook berhenti dan menatap mata Ayahnya yang ditutupi kacamata hitam. Namun Ayah terus berjalan tanpa menoleh ke arah Ryeowook sedikitpun.
Anak itu tertunduk, matanya berkaca-kaca. Meski ini bukan kali pertama dirinya tidak dihiraukan, namun setiap hal ini terjadi, Ryeowook selalu menitikan air mata. “Ayah, hati-hati di jalan,” ucapnya pelan.
Sementara itu, Donghae yang sedang di perjalanan, ia terkejut saat tiba-tiba mobilnya di salip seseorang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sesaat, Donghae melirik ke arah mobil yang kacanya sedikit terbuka dan melihat yang ada di dalam mobil itu adalah ayahnya Ryeowook.  “Ayah, Ayah, lihat... bukankah itu mobil Ayahnya Ryeowook? Cepat sekali, ya!”
Ayah Donghae melihat ke arah mobil yang sekarang berada di depannya, “Oya? Dia langsung pergi lagi begitu pulang?”
“Ayah, Ayah sadar tidak, Ayah Ryeowook mirip dengan Pianis yang diidolakan Ibu, Kim Jongwoon”.
“Benarkah?” tanya Ayah sambil terus menatap ke arah depan. Dalam hati, Ayah Donghae merasa setuju dengan apa yang dibicarakan  putranya. “Iya juga, Kim Jongwoon berhenti main piano setelah kematian istrinya, setelah itu, kabarnya tidak pernah terdengar lagi. Ibu Ryeowook sudah meninggal, dan marganya pun Kim, apa iya, ya?” Batinnya.








*To Be Continued*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar