Sarangi Ireokhe
Main Cast : Kim Heechul, Choi Siwon, Kim Ryeowook, Kim Yesung
Hari ini adalah hari valentine, hari yang dinantikan seluruh masyarakat Korea, khususnya para anak muda. Chullie, meski usianya tak dapat dikatakan muda (namun tak dapat dikatakan tua juga), ia mempersiapkan beberapa potong cokelat untuk dibagikan kepada teman-temannya. Ia sangat mengerti kesibukan kekasihnya, Kyuhyun.
Kekasihnya, yang merupakan asisten dosen pasti akan sibuk, karena hari valentine tahun ini bertepatan dengan hari ujian. Namun tak mungkin juga baginya untuk merayakan valentine dengan kekasihnya yang juga saudara tirinya, Siwon.
“Wookie ah, nanti kau akan pulang dulu atau pergi dengan calon kekasihmu itu?” tanya Chullie.
Wookie tersipu, “Onnie ah...” Ucapnya. “Aku akan pulang dulu. Mana mungkin aku pergi menggunakan seragam!” Wookie tertawa kecil. “Yesungie ah, nanti temani aku yah!” Pinta Wookie.
“Hmm... ne...” Ucap Yesung pelan.
“Mworago?.. Kau mau berkencan, mengapa mengajak Yesungie? Mengapa tidak kau minta saja laki-laki itu menjemputmu?” Seru Kangin Appa.
Wookie hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Kangin Appa. “Jja...! Ayo kita berangkat!” Seru Wookie pada ketiga kakaknya.
Setelah pamit, keempatnya menaiki mobil. Seperti biasa, Yesung dan Siwon duduk di depan, sementara Wookie dan Chullie di depan.
Sepanjang perjalanan, mereka berempat tak bersuara. Chullie memikirkan testnya, sementara Siwon sibuk menyupir. Walaupun demikian, Siwon masih tanggap dengan perilaku adik kembarnya. Ia mengintip dari kaca, apa yang dilakukan mereka.
Wajah Wookie tampak seperti biasanya, senyum manis selalu menghiasi wajahnya yang melihat ke luar jendela. Sementara Yesung, yang beberapa hari ini selalu tertidur selama perjalanan, kali ini ia tidak terlelap. Ia menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong.
Sekali-sekali, Siwon ingin sekali dapat membaca pikiran orang agar dapat menerka apa yang sedang dipikirkan adik laki-lakinya itu.“Yesungie, sudah sampai...” Ucapnya untuk ketiga kalinya, setelah mereka tiba di depan gerbang sekolah.
Kali ini Wookie yang turun lebih dulu membukakan pintu untuk kembarannya. Setelah keduanya turun, Chullie langsung pindah ke depan dan meminta Siwon untuk menunggu beberapa saat. Ia ingin mengamati kedua adiknya.
Menurut Chullie, keduanya terlihat berbeda. Wookie biasanya menggandeng lengan Yesung, namun kali ini tidak. Bahkan terdapat jarak yang cukup jauh di antara mereka.
“Mungkin menjaga jarak, kan Wookie akan segera mendapatkan orang yang ia cintai,” Ucap Siwon, menerka yang ada di pikiran Chullie.
“Kasihan Yesungie...” Gumam Cullie pelan, namun cukup terdengar di telinga Siwon.
“Mengapa kasihan? Bukankah tiap orang memang akan menemukan pasangan hidupnya? Cepat atau lambat, Yesung juga akan bertemu dengan orang yang ia cintai”.
“Ne, Siwonnie...” Chullie terdiam setelah merespon kata-kata Siwon.
Pikirannya tertuju pada masa yang akan datang, dimana ia harus membacakannya di depan para dosen. Hanya 3 orang dosen memang. Yang satu adalah orang yang 2 kali tidak meluluskannya; orang yang membuat kepalanya tidak dapat berpikir jernih; orang yang membuat jantungnya berdebar tiga kali lebih kencang, dari kecepatan mobil yang dikendalikan Yesung saat sedang kesal; orang yang membuatnya melupakan setiap kata yang ada dalam naskah sajak. Sedangkan yang lainnya adalah kekasihnya, Cho Kyuhyun.
Mungkin saja Kyuhyun akan meluluskannya. Namun sekalipun ia lulus, tetap saja ada rasa khawatir dalam pikirannya. Takut akan kehilangan sosok yang kerap ingin ia hindari. Takut tak dapat lagi melihatnya.
Siwon menjalankan mobilnya. “Yah... Chullie ah, kau kenapa?” tanya Siwon, yang merasakan ketidakberesan dari Chullie.
“Gwaenchana...” Jawabnya lemas.
Siwon menyisikan mobilnya dan mendekatkan wajahnya pada Chullie, “Gadis secantik ini, mana boleh tidak tersenyum,” Ucapnya sambil mencubit pipi Chullie yang putih bersih. Chullie tetap tidak bereaksi. Siwon kembali menjalankan mobilnya. “Kau dingin sekali hari ini... Apakah kekasihmu yang tampan ini akan mendapatkan sesuatu di hari valentine?” Tanya Siwon dengan nada menggoda.
“Mianhaeyo... Aku tak mempersiapkan apapun,” Jawab Chullie.
“Ha... Padahal aku sudah menunggu hari ini...” Siwon mengatakannya dengan nada kecewa yang dibuat-buat. “Lalu sore ini, apa kau ada rencana pergi ke luar?” Tanya Siwon. Chullie menggeleng.
“Sebenaranya tidak ada... tapi aku memang tak ada mood untuk pergi ke luar....” Jawab Chullie.
“Arrasso...” Siwon, memarkirkan mobilnya.
Chullie berjalan dengan langkah lunglai menuju ruang teater. Kepalanya menatap lantai. Ia benar-benar merasa tak bersemangat untuk menjalani kelas.
“Chullie ah...” Panggil seseorang. Chullie melihat ke arah orang itu. “Sudah belajar? Chagi ah, Hwaiting!” Ucapnya.
Itu kekasihnya. Namun ia merasa tak memiliki kekuatan untuk menjawabnya dan hanya memberikan jawaban dengan senyum terpaksa.
Beberapa saat kemudian, seluruh mahasiswa telah berkumpul di ruangan. Chullie menatap tim penilai. Seluruhnya ada 3 orang; Kyuhyun, Zhoumi Laoshi, Songqien Laoshi. Hey, kemana Pak Hangeng? Matanya menjelajah ke sekitar ruangan mencari laki-laki itu. Namun ia tetap tidak menemukannya.
Chullie mulai gelisah. Ia tak dapat menghentikan rasa cemasnya. Ia terus melihat ke sekitar.
“Anyeonghasaeyo..” Ucap Kyuhyun, yang saat ini sedang berbicara di hadapan para mahasiswa. “Hari ini, akan diadakan ujian sajak dan puisi. Mengenai kriteria kelulusan, kita sudah membahasnya tempo hari, dan akan berjalan sebagaimana yang sudah disepakati. Berkaitan dengan hal ini, Aku, Cho Kyuhyun akan menilai pelafalan Bahasa Mandarin, Songqien Laoshi akan menilai kelancaran, dan Zhomi Laoshi, akan menggantikan Hangeng Laoshi, untuk menilai penghayatan dan ekspresi wajah. Sampai di sini, apakah ada yang ingin ditanyakan?”
“Apa? Dia tidak datang? Mengapa?” Batin Chullie, seolah ingin meneriakan hal tersebut. Setidaknya, bila ia berteriak, mungkin saja ada yang akan memberitahukannya, dimana orang itu berada saat ini. Wajah Chullie terasa agak panas. Sebenarnya ia ingin menangis, namun apa jadinya kalau ia menangis tepat sebelum ujian.
“Kim Heechul Ssi..” Panggil Kyuhyun. “Kau mendapat kesempatan pertama untuk membacakan sajak yang kau pilih”.
Chullie berjalan menuju panggung. Ada sekitar10 meter, jarak dari tempat duduknya tadi sampai panggung. Ia membutuhkan waktu 30 detik untuk sampai di sana.
Tiga puluh detik itu merupakan waktu yang berharga bagi Chullie, karena dalam saktu sesingkat itu ia harus dapat menata hati dan pikirannya, sebelum ia terlanjur naik ke panggung dan mengacaukan segala hal yang telah ia persiapkan sebelum ujian.
Chullie berjalan dengan penuh percaya diri, kepalanya tegap. Ia menggenakan gaun brokenwhite motif bunga-bunga kecil warna coklat dan orangye muda, dipadu dengan sepatu putih, terlihat anggun. Rambut hitam sebahunya ia biarkan terurai, dengan hanya menggenakan bando pita yang bagian bawahnya ia ikat di belakang lehernya.
Chullie membungkukkan badannya, memberi hormat pada semua dosen penilai. “Anyeonghasaeyo, Kim Heechul imnida. Saya akan membacakan sebuah puisi milik Zhoumi Laoshi, “Ikatan Takdir”. Saya telah menyiapkan ini sejak lama, dan hari ini saya bahkan tidak menyangka kalau Zhoumi Laoshi akan datang menjadi Tim Penilai pada hari ini. Saya harap Zhoumi Laoshi tidak tersinggung, bila ada bagian dari sajak ini yang tidak tepat dalam
“Mudah saja... Hanya tidak perlu meluluskanmu..” Gurau Zhoumi Laoshi, sambil tersenyum ramah. Beberapa orang ada yang tertawa. Chullie sendiri tersenyum. Ia merasa sedikit relax dengan gurauan dari Zhoumi Laoshi.
Ikatan Takdir
Dunia bagaikan sebuah benteng di tempat terpencil
Memisahkan 2 orang yang harus saling bertemu satu-sama lain
Sampai pada hari dimana terompet bertiup mengumumkan bersatunya 2 manusia yang saling mencintai
Aku ada di sini, dan kau ada di seberang sana
Melihatmu tersenyum
Sama-sama menyaksiakan berlalunya siang dan malam
Di tepi laut ini, aku mengulurkan tanganku padamu
Keberanian membuatku ingin mengejar ikatan takdir ini
Lonceng berbunyi dengan suara D minor
Betapa indahnya dongeng ini
Kita tidak memerlukan burung kebahagiaan
Kita hanya saling membutuhkan satu sama lain untuk bersandar
Cinta seperti jalan yang ditutupi permadani dan aku bisa memelukmu pada akhirnya
Menemukan takdir, yang merobek waktu, dimana aku merasakan cinta yang sesungguhnya
Ikatan takdir dari 2 orang yang berada pada 2 jalan, dan berakhir pada titik yang sama
Kau adalah hal terindah di bulan April
Setiap bagian dari kenangan, berkumpul menjadi satu dalam sebuah daftar
Menemukan takdir, seperti merasakan surga tepat di sisimu
Kebahagiaan terlihat di antara celah-celah jari tangan yang saling bertaut
Melalui tatapan mata, tak perlu kata-kata
Hanya perlu saling melihat, untuk dapat mendengarkan apa yang ingin diucapkan
Harmoni tanpa suara, yang berlangsung selamanya dan tidak pernah berubah
Aku mencintaimu setiap hari
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Chullie membacakan sajak itu dengan penuh penghayatan. Kali ini ia dapat fokus pada sajaknya, karena tidak ada Hangeng Laoshi di sana. Namun tetap saja, dalam hatinya, ia merasa ada yang kosong tanpa kehadiran laki-laki itu.
“Yah, Heechul Ssi!” Ucap Zhoumi Laoshi, setelah Chullie mengakhiri pembacaan sajaknya. “Kau membacakan sajak itu dengan baik. Namun aku, sebagai orang yang menulisnya dapat merasakan, ada hal yang tidak tepat dari caramu merasakan isi dari sajak itu. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanyanya.
Chullie menatap Laoshi sejenak, ia berpikir apa yang harus ia katakan. Memang benar, apa yang ia rasakan saat itu tidak sesuai dengan isi sajak yang menggambarkan kebahagiaan seseorang saat menemukan pasangan hidupnya. Tapi tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga, Kyuhyun, kekasihnya, berada di tempat itu. “Ehm.... itu...”
“Tidak usah dijawab. Aku hanya ingin tahu reaksimu. Dari situ aku dapat mengetahuinya,” Ucap Zhoumi Laoshi sambil menuliskan sesuatu pada buku yang ada di hadapannya.
“Heechul Ssi, pelafalanmu baik. Itu saja dariku,” Ucap Kyuhyun.
“Kau sudah lancar dalam membacakannya. Tidak ada kesalahan sama sekali. Sempurna,” Ucap Songqien Laoshi.
"Terimakasih, para Laoshi sekalian,” Chullie membungkukan badannya, memberi hormat pada mereka, sebelum ia pergi.
Dari tempat itu, ia berjalan menuju kantin. Teman yang biasanya bersama dengan dia masih di aula,sehingga ia harus menunggu mereka untuk memberikan beberapa coklat.
Dalam perjalanannya, ia berhenti sejenak, begitu tiba di depan ruangan Hangeng Laoshi. Ia mengamati ruangan itu untuk beberapa saat.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Chullie terkejut dan berniat meneruskan langkahnya menuju kantin. Namun saat kakinya melangkah, seseorang dengan 5 buah buku tebal, yang tampak keluar dari ruangan itu menabraknya.
3 buku buah buku tebal jatuh tepat di atas perut Chullie. Gadis itu meringis kesakitan, sementara orang yang menabraknya masih mempertahankan 2 buah buku lain di tangannya, sebelum akhirnya melihat ke arah Chullie.
“Heechul Ssi...” Ucapnya terjeut. Karena terkejut, ia menjatuhkan 2 buku sisanya di atas lantai, dan berjongkok. “Gwaenchanayo?”
“Ha, Hangeng Laoshi?” Chullie berkata dalam hati. Ia ingin menjawab pertanyaan Hangeng yang saat ini ada di hadapannya. Tapi semua kata-katanya tercekat di tenggorokan. Ia tak dapat berucap sepatah kata pun.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk Chullie. Chullie meraihnya. Telapak tangan itu terasa begitu hangat di tangan Chullie yang sedari tadi sudah dingin.
“Tanganmu berkeringat dingin... Apakah kau sakit?” Tanya Hangeng padanya.
Chullie masih menatap Laoshinya itu dengan tatapan tak percaya.
“Hey,,, Gwaenchanayo?”
“Ah.. Iya.. Aku baik-baik saja. Tak perlu mengkhawatirkanku,” Ucap Chullie.
Hangeng kembali berjongkok untuk mengambil buku-buku yang terjatuh ke lantai. Chullie dengan tergesa-gesa ikut berjongkok, hendak mengambil buku-buku. Dan saat tangan mereka hampir meraih buku, kepala mereka saling berbenturan.
“Ah.. Dui bu qi....” Ucap Hangeng, bersamaan dengan Chullie yang mengucapkan, “Mianhae...”
Menyadari perbedaan bahasa yang mereka ucapkan, padahal artinya sama, keduanya sama-sama tertawa ringan.
“Beginilah, saat gugup, aku langsung mengatakan kata-kata dalam bahasa China, bukan Korea,” Hangeng menggaruk kepalanya, dengan mata masih mengarah ke buku.
Chullie melihat itu. Ia tersenyum karena ucapan dan tingkah laku Laoshinya.
“Mengapa harus gugup?” Pikirnya. “Kupikir, sebagai seorang yang dingin, kau dapat menahan rasa gugupmu. Apakah mungkin kalau kau menyukaiku juga, Laoshi?” Mata Chullie terbuka lebar, berbunga-bunga, mendengarkan apa yang ada dalam bantinnya.
“Kim Heechul Ssi...” Panggil Hangeng, sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Chullie.
“Eh?” Chullie terkejut.
“Kau, setelah ini, apakah ada kegiatan?” Tanya Hangeng.
“Ti.. Ti... Ti.... Tidak,” Ucapnya gugup. “Semua temanku masih di aula,” Ucap Chullie.
“Kalau begitu, maukah membantuku membawa buku-buku ini ke rumah?” Tanya Hangeng. “Sebenarnya masih ada banyak buku yang harus kubawa,” Hangeng menjelaskan tujuannya.
“Ya, ya... Aku mau,” Mata Chullie berbinar menerima ajakan Hangeng.
Keduanya masuk ke dalam ruangan Hangeng dan menggotong sebuah dus, yang ukurannya cukup besar dan berat.
“Ini semua buku-bukuku. Maaf sudah merepotkanmu,” Ucap Hangeng.
“Tak apa... aku senang bisa membantu Laoshi”.
Mereka memasukan dus itu ke bagasi mobil Hangeng, kemudian melaju ke rumahnya.
^TBC^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar